Pendidikan Untuk Kemandirian

 Pendidikan Untuk Kemandirian

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Pak Rahimi yang terhormat! Kita sangat sedih menyaksikan bahwa negara kita belum bisa bebas dari pengangguran, bahkan seakan pengangguran terus meningkat, termasuk pengangguran di tingkat sarjana. Semestinya orang yang sudah melewati jenjang pendidikan tinggi tersebut harusnya menjadi orang-orang yang mandiri. Bagaimana persoalan ini pak, kenapa sudah sarjana atau sekolah tinggi, tetapi masih banyak yang menganggur! Terima kasih.

Zulkifli di Bandar Lampung


Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumuah (60): 10).

Pertanyaan saudaraku Zulkifli di Bandar Lampung mewakili perhatian dan keprihatinan kita bersama. Seharusnya, memang orang yang sudah melewati masa pendidikan, apalagi seorang sarjana, mereka sudah harus mandiri. Mandiri secara agama, kepribadian dan akhlak, termasuk mandiri dari sektor ekonomi.

Pendidikan Untuk Kemandirian


Secara falsafah pendidikan adalah proses panjang dan berkelanjutan untuk mentransfortasikan peserrta didik menjadi manusia yang sesuai dengan tujuan penciptaannya, yaitu bermanfaat bagi dirinya, bagi sesama, bagi alam semesta, beserta segenap isi dan peradabannya.

Sejalan dengan itu, dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2013, tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas), menjadi bermanfaat itu dirumuskan dalam indikator, seperti beriman bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis dan bertanggung jawab.

Indikasi ketidakmandirian sarjana atau generasi muda kita saat ini memang terlihat jelas. Secara keyakinan dan agama, seorang sarjana seharusnya sudah memahami hakikat hidup, tujuan hidup, dan cara hidup. Mereka adalah orang-orang yang taat dan menjalankan syariat agamanya dengan benar. Jadi bukan lagi menjadi seorang pemuda yang pemalas, jauh dari agama, dan berleha-leha, menghabiskan waktunya dengan aktifitas yang tidak bernilai ibadah.

Secara kepribadian, generadi muda atau sarjana yang mandiri adalah mereka memiliki akhlak dan tingkah lalu yang terpuji dan jauh dari perilaku kejahatan, pribadi yang menyimpang dan segala tindakan tak bermoral. Jadi pemuda tersebut bukanlah pemuda yang akrap dengan tawuran, aksi kriminal, terlibat narkoba dan segala jenis obatan terlarang. Kedewasaan mereka tergambar dalam cara hidupnya, mulai dari tutur katanya, cara berfikirnya, cara beribadahnya, hingga cara berintegrasi mereka dengan lingkungan masyarakatnya. Kedewasaan dan kemandirian seorang pelajar terdidik itulah yang diharapkan oleh bangsa dan Negara ini ke depan.

Namun, jika pengangguran yang saudara atau kita maksudkan adalah pengangguran dan keterbatasan penguasaan ekonomi, maka memang pengannguran lulusan diploma dan sarjana masih banyak yang belum mampu mencukupi kebutuhannya sehari-hari alias tidak mempunyai pekerjaan tetap (pengangguran) dan belum mampu mandiri.

Mengacu pada data BPS sampai Februari  2013 tingkat pengangguran di Indonesia  mencapai 7,17 juta jiwa. Termasuk pengangguran di kalangan lulusan universitas / perguruan tinggi mencapai 360.000 orang atau 5,04 persen dari pengangguran secara keseluruhan. Artinya, tingkat persaingan, kesempatan kerja dan kesiapan untuk mandiri, terus mengancam. Jangankan, kalangan generasi yang putus sekolah dan berpendidikan rendah, kalangan terpelajar dan berpendidikan tinggi pun belum lolos dari ancaman pengangguran tersebut.

Salah satu penyebab munculnya ketidakmandirian kalangan pemuda, pelajar dan sarjana kita tersebut adalah pendidikan kita tidak dapat melahirkan generasi pendobrak dan generasi pembangunan. Pendidikan kita masih lebih banyak melahirkan generasi penikmat dan generasi masa bodoh.

Meminjam istilah seorang sejarawan muslim klasik Ibnu Khaldun. Menurutnya, dalam 100 tahun perjalanan suatu bangsa akan lahir empat model generasi, yaitu: generasi pendobrak, generasi pembangunan, generasi penikmat, dan generasi masa bodoh.

Generasi pendobrak adalah mereka yang berani melakukan perubahan-perubahan secara mendasar. Generasi pembanguan adalah mereka dengan segala kesederhanaan dan solidaritas tunduk di bawah otoritas kekuasaan yang didukungnya, bekerja secara bersistim, memiliki rencana dan target yang terukur.

Sementara itu, generasi penikmat adalah mereka yang karena diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam kekuasaan, mereka tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negaranya. Mereka berfikir bagaimana menikmati dari pada bekerja untuk membangun. Demikian juga dengan generasi masa bodoh adalah mereka yang tidak lagi memiliki hubungan emosional dengan negara. Mereka dapat melakukan apa saja tanpa peduli dengan kepentingan masyarakat dan negaranya.

Lebih lanjut Ibnu Khaldun mengatakan bahwa jika suatu bangsa sudah sampai pada generasi ketiga dan keempat ini, maka keruntuhan suatu bangsa tersebut sudah diambang pintu. Suatu peradaban dapat runtuh jika timbulmya materialisme atau budaya kemalasan dan bermewah-mewahan.

Jadi, tanpa menyalahkan lingkungan dan sistim pemerintahan yang tidak menguntungkan dan kurang berpihak, sejatinya pendidikan yang benar akan tetap tetap melahirkan generasi yang mandiri. Tentu saja hanya generasi, pelajar dan sarjana yang bermental pendobrak dan pembangunlah yang bisa eksis dan mandiri.  Wallahu a'lam bishawab.

Sumber : http://www.suara-islam.com/

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama