Adakah Tauhid Dalam Agama Kristen saat ini ? - Dalam sejarah keagamaan
manusia, mungkin hampir bisa dipastikan bahwa jalan cerita keagaman
setiap kelompok manusia selalu sama, di mana suatu kelompok manusia atau
sebuah kaum akan menyimpang dalam keyakinan mereka tentang Tuhan,
kemudian Tuhan mengutus seorang atau beberapa orang utusan kepada mereka
untuk meluruskan keyakinan mereka tersebut melalui wahyu dari-Nya yang
kemudian tercatat dalam lembaran-lembaran kitab. Kemudian, sepeninggal
utusan mereka tersebut, dan seiring berjalannya waktu, generasi
berikutnya dari kaum tersebut menjadi menyimpang kembali dari ajaran
yang telah diluruskan sebelumnya, yang kemudian Tuhan pun kembali
mengirim utusan selanjutnya untuk meluruskan penyimpangan yang telah
terulang tersebut. Dan demikianlah kurang lebih jalan sejarah keagamaan
manusia selalu terulang kembali, di mana para utusan akan selalu
dikirimkan untuk meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di
antara ummat manusia, hingga akhirnya tiba seorang utusan penutup di
akhir zaman membawa agama kebenaran yang menyempurnakan agama-agama
mereka.
Dan jika ditarik persamaan antara semua agama yang memiliki kitab,
maka hampir semua agama tersebut memiliki ajaran tentang monotheisme
atau tauhid. Dan hampir semua penyimpangan yang selalu berulang dalam
sejarah keagamaan manusia adalah penyimpangan atas monotheisme atau
tauhid tersebut, di mana semestinya mereka harus mengesakan Tuhan dalam
penyembahan, namun mereka justru menyekutukan-Nya, dengan menjadikan
sebagian perantara untuk mengenali Tuhan justru sebagai sembahan di
samping Tuhan itu sendiri.
Seandainya setiap pemeluk agama yang memiliki kitab bersedia untuk
lebih mendalami konsep monotheisme dalam kitabnya masing-masing, maka
mereka pun akan harus menjauhi penggambaran Tuhan dengan wujud-wujud
yang memiliki kelemahan dan keterbatasan, karena Tuhan Yang Maha Esa itu
tidak mungkin memiliki kelemahan dan keterbatasan. Dan
ketidakterbatasan Tuhan itulah yang menyebabkan manusia hingga tak
sanggup menggambarkan-Nya secara utuh dalam ruang berfikir mereka yang
sangat terbatas. Justru ketika manusia memaksa ruang berfikir mereka
untuk dapat menampung hakikat wujud Tuhan secara utuh, maka ruang
berfikir mereka itu pun akan pasti pecah dan rusak, ibarat kantong
plastik yang harus diisi air lautan secara paksa. Oleh karena itu,
sebenarnya ketika wujud Tuhan justru dapat terjangkau oleh alam fikiran
manusia secara utuh, maka pasti itu bukanlah Tuhan yang sebenarnya.
Ummat Hindu menyembah para dewa atau tuhan-tuhan yang wujudnya dapat
terjangkau oleh alam fikiran manusia, meskipun di dalam ajaran mereka
sendiri juga terdapat pesan-pesan tentang monotheisme atau tauhid. Tak
berbeda halnya dengan agama-agama lain yang semacamnya, seperti Buddha
dengan dewa-dewanya, Yahudi dan Kristen dengan Tuhan anaknya, dan
seterusnya; semua keyakinan tersebut memiliki sembahan-sembahan yang
justru memiliki kelemahan dan keterbatasan.
Dan di sinilah, Islam, yang merupakan agama penutup akhir zaman,
datang untuk memurnikan kembali monotheisme atau ajaran tauhid tersebut,
mengakhiri penyekutuan manusia terhadap Tuhan mereka Yang Maha Esa.
Ummat Hindu dan Buddha memang menyembah Tuhan Yang Maha Esa, namun
mereka juga menyembah dewa-dewa sebagai tuhan selain-Nya. Ummat Yahudi
dan Kristen juga menyembah Tuhan Yang Maha Esa, namun mereka juga
menganggap bahwa Tuhan memiliki anak atau telah melahirkan tuhan yang
lain untuk harus juga disembah dan diagungkan. Padahal, sebenarnya apa
yang mereka sembah selain Tuhan Yang Maha Esa tersebut hanyalah
perantara atau jalan untuk mengenal Tuhan itu sendiri. Demikianlah
penyekutuan ummat beragama terhadap Tuhan yang semestinya harus mereka
esakan. Dan penyekutuan atau syirik inilah yang merupakan dosa terbesar
bagi orang-orang yang mempercayai adanya Tuhan, yang bahkan syirik
tersebut akan dinilai sebagai sikap yang sama dengan mengingkari adanya
Tuhan itu sendiri. Islam telah menegaskan bahwa kedudukan seorang
musyrik atau pelaku penyekutuan Tuhan adalah sama seperti orang-orang
kafir yang mengingkari Tuhan. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an
yang artinya:
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih putra Maryam.’” (Al-Maaidah: 17)
Dari ayat tersebut, meskipun ia ditujukan bagi para penyembah Yesus
atau Isa al-Masih putra Maryam, kita bisa menyimpulkan bahwa meskipun
manusia telah meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa, mereka akan justru
disebut kafir atau ingkar Tuhan karena telah menyekutukan Tuhan Yang
Maha Esa tersebut dengan selain-Nya, atau dengan utusan Tuhan itu
sendiri. Dan tampaknya itulah yang selama ini menjadi masalah utama bagi
hampir semua agama manusia, kecuali agama Islam
Dan semenjak agama Kristen merupakan agama yang paling banyak jumlah
penganutnya di dunia saat ini, di samping juga karena hanya ummat
Kristen sajalah yang pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk bisa
hidup rukun dengan ummat Islam, serta berdasarkan pesan di dalam
al-Qur’an yang memperingatkan agar kita tidak menuduh Allah SWT telah
mengambil seorang anak, maka tulisan ini akan lebih menekankan tentang
agama Kristen dan ummatnya, beserta kaitannya dengan monotheisme atau
ajaran tauhid. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang artinya:
“Sesungguhnya akan kamu dapati orang-orang yang paling keras
permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi
dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya akan kamu dapati yang
paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah
orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang Nasrani
(ummat Kristen)’. Yang demikian itu adalah karena di antara mereka
(orang-orang Nasrani) itu terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib,
(juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (Al-Maaidah: 82)
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya
al-Kitab (al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya;
sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang
sangat pedih dari sisi Allah dan memberi kabar gembira kepada
orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan
mendapat pembalasan yang baik; mereka kekal di dalamnya untuk
selama-lamanya; Dan untuk memperingatkan orang-orang yang berkata: ‘Allah telah mengambil seorang anak’;
Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu
pula nenek moyang mereka. Alangkah besarnya (keburukan) kata-kata yang
keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali
dusta.” (Al-Kahfi: 4-5)
Dalam ajaran agama Kristen, Tuhan diyakini sebagai Dzat Pencipta yang
memiliki tiga kepribadian, yaitu Allah Bapa, Putra dan Ruh Kudus. Namun
demikian, ummat Kristen diharuskan untuk meyakini bahwa tiga
kepribadian tersebut adalah satu pada hakikatnya. Artinya, agama Kristen
dalam keyakinannya mengajarkan bahwa Tuhan itu adalah Maha Esa, yaitu
satu atau tunggal yang tiada duanya, namun dalam praktiknya, ia
mengajarkan bahwa Tuhan yang harus diagungkan dan disembah itu adalah
tiga Tuhan. Terlepas dari kebingungan kita dalam memahami dan
membenarkan konsep ‘satu namun tiga’ tersebut, pada kenyataannya, konsep
yang disebut Tritunggal atau Trinitas itu pun juga tidak pernah secara
tegas disebutkan di dalam kitab Injil itu sendiri, melainkan hanya
dilandasi oleh dalil-dalil yang samar dan lemah dari ayat-ayatnya, dan
tak pernah melalui pernyataan yang kuat dan mantap, misalnya pernyataan
yang semestinya diungkapkan sendiri oleh Yesus seperti, “Aku adalah
Yesus, Tuhan di samping Allah” atau “Sembahlah aku bersama Allah”, dan
ungkapan-ungkapan lain yang semacam itu. Mereka justru hanya mengambil
dalil-dalil yang sangat rapuh yang begitu sulit untuk dijadikan
sandaran. Dan di antara dalil yang digunakan oleh agama Kristen untuk
menguatkan ajaran Tritunggalnya tersebut adalah salah satunya ayat Injil
yang berikut ini:
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui aku.” (Yohanes 14:6)
Dalam hal ini, terlepas dari apakah ayat Injil tersebut benar-benar
murni dan masih belum ternodai oleh campur tangan manusia ataukah
sebaliknya, tetap saja kita tidak akan bisa menerima ayat tersebut
sebagai landasan atau dalil bagi keyakinan bahwa Yesus adalah salah satu
dari tiga Tuhan dalam konsep Tritunggal. Kita tidak bisa membenarkan
bahwa ungkapan ‘Akulah jalan’ adalah makna lain dari ‘Akulah Tuhan’,
sebagaimana tidak mungkin bagi kita untuk menyamakan antara misalnya
sebuah ‘kota’ yang kita tuju dengan ‘jalan’ yang melaluinya kita dapat
sampai kepada kota tersebut, karena kota adalah kota, sedangkan jalan
menuju kota adalah sesuatu yang terpisah dari kota itu sendiri. Ketika
kita bermaksud untuk pergi ke Jakarta, misalnya, sedangkan keberadaan
kita saat itu adalah di Surabaya, maka apakah lantas semua jalan
sepanjang Surabaya menuju Jakarta adalah bagian dari Jakarta itu
sendiri? Tentu tidaklah mungkin demikian. Pasti akan sangat aneh ketika
misalnya kita baru sampai di Semarang lantas kemudian kita mengatakan,
“Inilah Jakarta”, dan demikianlah seterusnya. Maka dari itu, keyakinan
yang menyimpulkan bahwa ‘jalan’ adalah bagian dari ‘kota’ itu sendiri
sebenarnya adalah keyakinan yang terlalu dipaksakan. Sesungguhnya Tuhan
adalah Tuhan, sedangkan jalan menuju Tuhan adalah sesuatu yang terpisah
dari Tuhan itu sendiri, sehingga pernyataan Yesus yang menyebutkan
“Akulah jalan” sangatlah tidak tepat jika diartikan sebagai “Akulah
Tuhan”.
Di samping itu, bahkan, konon konsep Tritunggal tersebut pun juga
baru mulai diresmikan pada sebuah pertemuan yang disebut Konsili Nicea I
yang dihimpun oleh seorang Kaisar Romawi pada tahun 325 M. Padahal,
seharusnya tidak pantas jika Tuhan membutuhkan peresmian dari
makhluq-Nya, karena tanpa diresmikan sekalipun, Tuhan tetaplah Tuhan
untuk selamanya. Dan lebih dari itu, di dalam Injil sendiri juga telah
disebutkan secara sangat jelas dan tegas bahwa Tuhan adalah Dzat Yang
Maha Esa, Satu atau Tunggal, yang tiada sesuatupun yang bisa diserupakan
dengan-Nya, yang mana itulah bentuk pesan monotheisme atau tauhid di
dalam Injil itu sendiri. Dan Injil juga menyebutkan bahwa Yesus atau Isa
AS hanyalah seorang rasul atau ‘utusan’ Tuhan semata, dan bukan bagian
dari Tuhan itu sendiri. Di dalam Injil disebutkan berikut ini:
“Maka sebab itu besarlah Engkau, ya Tuhan Allah, karena tiada yang dapat disamakan dengan Dikau dan tiada Allah melainkan Engkau, menurut segala yang kami dengar dengan telinga kami.” (Samuel 7:22)
“Maka jawab Yesus kepadanya, ‘Hukum yang terutama ialah: Dengarlah olehmu, hai orang-orang Israel, adapun Allah Tuhan kita, Dialah Tuhan yang Esa.’” (Markus 12:29)
“Dengarlah, hai orang Israel. Tuhan adalah Allah kita. Tuhan adalah satu.” (Ulangan 6:4)
“Maka aku tidak boleh berbuat satu apapun dari mauku sendiri. Seperti aku dengar, begitulah aku hukumkan, dan hukumku itu adil adanya, karena tiada aku coba menuruti mauku sendiri, melainkan maunya Bapa yang sudah mengutus aku.” (Johanes 5:30)
Dari beberapa ayat tersebut saja kita bisa menarik kesimpulan bahwa
Yesus sendiri ternyata juga telah mengucapkan syahadat, yaitu bersaksi
bahwa sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, yang mana tiada
sesuatu pun yang dapat diserupakan dengan-Nya, dan bahwa dirinya
hanyalah seorang rasul atau utusan Allah SWT yang hanya mendengar wahyu
dari Allah SWT, yang mana melalui perantara beliaulah ajaran dan
hukum-hukum Allah SWT tersampaikan kepada kaumnya. Dan syahadat semacam
ini jugalah yang telah diajarkan oleh junjungan ummat Islam, Rasulullah
Muhammad SAW, bahwa sesungguhnya tiada Tuhan yang berhak disembah
kecuali Allah SWT, dan bahwa beliau hanyalah utusan Allah SWT
sebagaimana para utusan lain sebelumnya.
Dan jika kita sandingkan ayat-ayat Injil yang telah disebutkan
tersebut dengan ayat-ayat al-Qur’an yang semakna, maka kita akan semakin
meyakini bahwa memang Injil dan al-Qur’an adalah dua kitab yang
sama-sama berasal dari satu sumber, yaitu Allah Yang Maha Esa. Namun
tentu sangatlah sulit dimengerti jika sebagian besar ayat dari keduanya
sama-sama memiliki keterkaitan dan keselarasan, sedangkan sebagian
lainnya justru saling bertentangan dan bertolak belakang, seperti
misalnya ketika Allah SWT menyebutkan di dalam Injil-Nya bahwa Dia telah
mempunyai anak, sedangkan di dalam Qur’an-Nya Dia justru mengharamkan
pernyataan bahwa Dia telah mengambil seorang anak. Dan di sinilah tampak
semakin jelas bahwa pastinya ada di antara salah satu dari dua kitab
tersebut yang benar-benar telah terdapat penyimpangan di dalamnya. Dan
biasanya, sebuah pelurusan atas penyimpangan itu akan pasti dilakukan
setelah penyimpangan itu terjadi.
Dan berikut inilah terjemahan beberapa ayat al-Qur’an yang memiliki
makna serupa dengan beberapa ayat Injil tersebut, yang sekaligus
menjelaskan sebab perselisihan antara agama islam dan agama Kristen
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” (Asy-Syuuraa: 11)
“Katakanlah: ‘Dia-lah Allah, Yang Maha Esa; Allah adalah Tuhan
yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu; Dia tiada beranak dan tiada
pula diperanakkan; Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia’.” (Al-Ikhlaash: 1-4)
“Dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya (sendiri); Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)
“Manusia itu adalah umat yang satu; (setelah timbul perselisihan,) maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang-orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab,
yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata,
karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk
orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka
perselisihkan itu, dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi
petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Al-Baqarah: 213)
Demikianlah beberapa dari banyak ayat al-Qur’an yang selaras dengan
beberapa ayat Injil yang telah disebutkan sebelumnya, yang menyatakan
bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah SWT dan bahwa para
utusan-Nya hanyalah manusia biasa seperti ummatnya, yang mana juga
memiliki kebiasaan manusiawi seperti makan, minum, berjalan di pasar,
istirahat, dan seterusnya, yang itu semua telah cukup menjadi bukti
bahwa mereka bukanlah Tuhan atau bagian dari Tuhan itu sendiri. Allah
SWT lebih lanjut menegaskan itu semua di dalam beberapa ayat al-Qur’an,
sebagaimana yang artinya berikut ini:
“Katakanlah: ‘Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul (utusan)?’” (Al-Israa’: 93)
“Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad),
melainkan berupa beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada
mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika
kamu tiada mengetahui; Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang
tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang
kekal.” (Al-Anbiyaa’: 7-8)
“Mereka berkata: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami
juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari
apa yang selalu disembah oleh nenek moyang kami, karena itu datangkanlah
kepada kami bukti yang nyata.” (Ibrahim: 10)
Dan di sana masih terdapat banyak ayat dalam Injil maupun al-Qur’an
yang mempertegas bahwa konsep monotheisme atau tauhid adalah sebuah
kepastian yang tidak bisa dipengaruhi oleh keraguan ataupun sekedar
prasangka, dan bahwa sosok-sosok yang memiliki kelemahan dan
keterbatasan bukanlah Tuhan, karena Tuhan sangatlah suci dari segala
kelemahan dan keterbatasan. Oleh karena itulah, keyakinan yang selama
ini telah menjadi pegangan ummat Kristen tentang Tuhan mereka, yaitu
faham Tritunggal, adalah tidak dapat diterima atau tertolak
kebenarannya, berdasarkan dalil akal maupun dalil ayat-ayat Injil itu
sendiri, dan terlebih lagi berdasarkan dalil ayat-ayat al-Qur’an. Semua
kesimpulan tentang Tritunggal adalah kesimpulan yang salah dan
dipaksakan.
Maka dari itu, di sini agama Islam telah menawarkan kebenaran kepada
ummat Kristen, juga kepada ummat agama-agama lainnya, yang mana
kebenaran tersebut telah terbukti dapat menyembuhkan berbagai macam
penyimpangan, baik penyimpangan dalam cara berfikir tentang bagaimana
mengenal Tuhan, penyimpangan dalam ritual penyembahan Tuhan,
penyimpangan dalam perkara sosial, keadilan ekonomi, kehormatan, dan
seterusnya. Dan jika mungkin Ummat Kristen masih meragukan kebenaran
Islam, mereka tetap dipersilahkan untuk membandingkan secara langsung
antara ajaran Islam dengan ajaran Kristen itu sendiri, misalnya dalam
beberapa permasalahan berikut ini:
- Menyelamatkan kehormatan lahir dan batin
Islam mengajarkan ummatnya agar mereka melaksanakan perkara-perkara
yang dapat menyelamatkan diri mereka sendiri dan orang lain, yang di
antaranya adalah dengan memerintahkan mereka untuk menutup aurat. Setiap
orang dari ummat Islam diharuskan menutup auratnya dengan sempurna
ketika mendatangi tempat-tempat umum, demi mencegah potensi negatif yang
mungkin muncul dalam diri orang lain disebabkan oleh keberadaannya.
Selain hal tersebut akan lebih aman bagi dirinya sendiri, orang lain pun
juga akan menjadi aman dari pemandangan negatif yang dapat mengganggu
batin mereka hingga memicu tindakan merugikan yang tak diharapkan.
Karena pada kenyataannya, perilaku merugikan dan merusak yang banyak
terjadi adalah disebabkan oleh potensi-potensi manusiawi yang tidak
diamankan secara seharusnya. Maka dalam hal ini, apakah agama Kristen
telah memberikan aturan menutup aurat dengan tegas dan jelas? Seperti
apakah batasan-batasan dalam agama Kristen antara yang dilarang dan yang
diperbolehkan untuk tampak dalam perkara aurat?
- Kesenjangan jumlah jiwa antara laki-laki dan perempuan
Menghadapi fenomena kesenjangan jumlah jiwa antara laki-laki dan
perempuan, yang mana jumlah perempuan jauh lebih banyak dibandingkan
jumlah laki-laki, Islam memperbolehkan kaum laki-lakinya yang mampu
secara materi dan sanggup bersikap adil untuk menikahi satu sampai empat
orang istri, yang di antara hikmahnya adalah untuk menolong
wanita-wanita janda yang merawat sendiri anak-anak mereka; menekan
jumlah penyimpangan pergaulan yang bisa saja dilakukan oleh selisih
jumlah wanita karena tidak memperoleh ‘jatah pasangan’; menyelamatkan
nilai-nilai terhormat tentang nasab atau keturunan, di mana istri kedua
harus diperkenalkan dengan istri pertama, dan seterusnya, agar antara
keturunan masing-masing tidak sampai terjadi nikah sesama saudara atau
hubungan sedarah, dan juga agar tidak terjadi fitnah yang lebih besar
karena pernikahan yang tidak saling diberitahukan; dan hikmah-hikmah
lain yang semacam itu. Maka dalam permasalahan ini, solusi apakah yang
telah benar-benar dipersiapkan oleh agama Kristen? Apakah selisih jumlah
wanita yang tidak memperoleh ‘jatah pasangan’ lantas boleh berbuat
bebas dalam pergaulan mereka dengan alasan tersebut? Dan masih banyak
lagi pertanyaan lain tentang hal tersebut untuk agama Kristen.
- Bahaya minuman keras
Semua manusia tentu mengerti dampak buruk dari minuman keras. Dan
Islam dalam sejarahnya telah berhasil menyadarkan suatu bangsa yang mana
telah begitu terlilit oleh pengaruh minuman yang merusak tersebut. Dan
kalau tidak salah, dalam ajaran agama Kristen tidak ada pelarangan
minuman keras secara tegas, melainkan hanya dianjurkan agar tidak sampai
berlebihan dalam meminumnya sehingga tidak sampai mabuk-mabukan.
Mungkin mereka beralasan bahwa pada masa Yesus atau Isa AS memang tiada
pelarangan yang tegas dalam hal tersebut. Namun demikian, kalaulah
misalnya benar bahwa pada masa Yesus atau Isa AS minuman keras tidak
secara tegas dilarang, maka itu bukan berarti bahwa untuk seterusnya
minuman keras akan berstatus demikian, karena memang ketentuan hukum
Tuhan itu akan bisa berbeda setiap zamannya. Dahulu, generasi awal nabi
Adam AS masih diperbolehkan untuk menikah dengan sesama saudara, namun
tentu tidak demikian untuk saat ini, baik karena alasan ilmiah dan
kesehatan ataupun karena alasan kepantasan dan kehormatan. Di samping
itu, pada kenyataanya, kerusakan di tengah-tengah manusia yang sering
terjadi, seperti pergaulan bebas, kecelakaan lalu lintas, dan kerusakan
yang lebih berat dari itu, adalah disebabkan oleh pengaruh minuman
keras. Maka betapa sulitnya untuk menerima kebenaran agama Kristen jika
ajarannya tidak mengharamkan minuman keras yang telah terbukti merugikan
tersebut.
Dan tentu masih banyak lagi selain perkara-perkara tersebut yang
menjadi kelebihan agama Islam yang tidak dimiliki oleh agama Kristen.
Agama Kristen memang memiliki kebaikan-kebaikan yang serupa dengan
Islam, seperti dalam hal budi pekerti, kasih sayang, kemanusiaan, hikmah
dan keteladanan dari para nabi dan rasul serta orang-orang terpilih
lainnya, dan juga kebaikan-kebaikan umum lainnya, karena memang keduanya
sama-sama bersumber dari Satu Dzat Pencipta yang sama, yaitu Allah SWT,
namun tentu kekurangan-kekurangan dan penyimpangan di dalam agama
Kristen itulah yang sebenarnya telah menyebabkan agama Kristen menjadi
tidak sempurna dan rapuh. Dan jikapun agama Kristen dilengkapi
kekurangannya, sedikit demi sedikit hingga iapun menjadi sempurna, maka
ketika kita menyaksikan agama Kristen telah disempurnakan, niscaya
ketika itulah kita akan menyaksikan agama Islam, karena memang Islam
diturunkan salah satunya adalah untuk meluruskan apa-apa yang menyimpang
dari ajaran Yesus atau Isa AS akibat campur tangan manusia, sekaligus
sebagai agama penyempurna bagi semua agama manusia di akhir zaman.
Di samping itu, seandainya kita bersedia untuk memperhatikan fenomena
perpindahan keyakinan, baik dari agama Kristen ke agama Islam, atau
sebaliknya, maka ketika kita memperhatikan orang-orang yang berpindah
keyakinan dari agama Kristen ke agama Islam, kita akan mendapati bahwa
kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mencari kebenaran dengan
kesungguhan, tanpa kecenderungan terhadap materi atau motif apapun yang
selain itu. Namun sebaliknya dengan orang-orang yang berpindah keyakinan
dari agama Islam ke agama Kristen, di mana hampir kebanyakan dari
mereka adalah orang-orang yang terpaksa mengganti agama mereka karena
kecenderungan materi atau motif lain yang semacamnya, dan bukan
berdasarkan usaha mencari kebenaran dengan sungguh-sungguh.
Lebih dari itu, kalaupun seandainya seluruh ummat manusia bersedia
untuk bersama-sama mencoba membandingkan antara agama Islam dan agama
Kristen, dengan cara misalnya dalam masa lima tahun seluruh ummat
manusia memeluk agama Kristen, kemudian untuk selanjutnya, hingga akhir
usia mereka, semuanya memeluk agama Islam dengan taat; atau dengan pola
sebaliknya, yaitu lima tahun memeluk agama Islam, kemudian untuk
seterusnya memeluk agama Kristen semuanya; maka dari sini, apakah
kira-kira perbedaan pengaruh antara dua pola tersebut bagi kehidupan
manusia, atau perubahan apakah yang akan terjadi dalam kehidupan manusia
akibat perpindahan keyakinan tersebut? Mungkin, dari pengandaian ini
saja pun kita akan bisa membayangkan betapa akan semakin rusaknya
pergaulan ummat manusia jika ummat Islam yang sudah secara baik-baik
menjaga aurat dan kehormatan mereka, menjaga dan menafkahi empat orang
istri dengan adil, menjauhi minuman keras, dan seterusnya, justru harus
bersama-sama memeluk agama Kristen secara bersamaan, yang di dalamnya
tiada perintah menutup aurat secara jelas, tiada aturan tentang poligami
yang menyelamatkan nasib para janda dan anak mereka, tiada larangan
tegas terhadap minuman keras, dan seterusnya. Dan tampaknya, kita akan
bisa membayangkan betapa teraturnya kehidupan manusia jika semuanya
memeluk agama Islam dengan taat, di mana dunia ini akan tentu menjadi
lebih baik dan lebih damai. Namun bagaimanapun juga, ternyata Allah SWT
memang telah menentukan dengan hikmah-Nya bahwa di dunia ini pasti akan
ada yang memperoleh hidayah-Nya dan akan ada yang tidak, karena jika
semuanya memperoleh hidayah-Nya untuk kemudian memperoleh keselamatan,
tentunya Allah SWT tidak akan perlu mempersiapkan tempat tinggal yang
menyakitkan di akhirat. Maka di sinilah kita mengerti betapa besarnya
keberuntungan ummat manusia yang dianugerahi hidayah iman dan Islam.
Di samping itu, dalam keyakinan Tritunggal agama Kristen, jikapun
memang Tuhan harus mengambil seorang anak, maka seharusnya yang lebih
berhak untuk menjadi anak-Nya adalah Adam AS, dan bukan Yesus atau Isa
AS, karena Yesus atau Isa AS tercipta dan terlahir melalui rahim seorang
makhluq, sedangkan Adam AS tercipta justru tanpa melalui rahim makhluq
apapun. Kemudian selain itu, jika memang Tuhan harus menebus dosa ummat
manusia, tentu Tuhan tidak perlu merubah sepertiga dari diri-Nya sendiri
untuk menjadi makhluq, melainkan cukup dengan mengampuni
makhluq-mahkulq-Nya begitu saja tanpa syarat apapun, yang mana itu akan
lebih pantas bagi Dzat Pencipta daripada Pencipta tersebut harus menjadi
ciptaan-Nya sendiri. Maha Suci Tuhan dari keyakinan Tritunggal dan
keyakinan-keyakinan lain yang semacam itu.
Dan seandainya setelah semua kenyataan tersebut ummat Kristen masih
tetap meyakini bahwa Yesus atau Isa AS adalah anak Tuhan, maka
setidaknya mereka akan perlu untuk mempertimbangkan ayat-ayat Injil yang
berikut ini:
“Maka Aku telah mendapat Daud, hamba-Ku, dan Aku telah menyirami
dia dengan minyak-Ku yang suci; Maka tangan-Ku akan menyokong dia
selalu, dan lengan-Ku akan menguatkan Dia; … Ia pun akan memanggil akan
Daku: ‘Engkau juga Bapaku, Allahku dan gunung batu selamatku!’; Maka Akupun akan menjadikan dia anak sulung, yang maha tinggi di atas segala raja-raja di bumi.” (Mazmur 89: 21-22, 27-28)
“Kemudian, kamu (Musa) harus berkata kepada Fir’aun, ‘Tuhan mengatakan ini: “Israel (Ya’qub) adalah anak-Ku yang sulung.” (Keluaran 4:22)
“Aku akan memimpin mereka pada jalan itu sebab Aku adalah Bapa Israel. Dan Efraim adalah anak laki-laki-Ku yang sulung.” (Yeremia 31:9)
Dari ayat-ayat Injil tersebut, jika memang ummat Kristen menuhankan
Yesus atau Isa AS karena dia merupakan anak Tuhan, maka mengapa mereka
tidak juga menuhankan ‘anak-anak’ Tuhan yang lainnya tersebut? Maha Suci
Allah dari memiliki anak yang menjadi sembahan selain-Nya. Lebih lanjut
tentang ayat-ayat tersebut, di mana di situ kita mendapati istilah
‘Bapa’ dan ‘anak’, yang mungkin, jika ayat-ayat tersebut memang
benar-benar masih murni, bisa jadi istilah ‘Bapa’ dan ‘anak’ tersebut
adalah semestinya bermakna ‘Tuhan’ dan ‘hamba pilihan’, sebagaimana para
rasul yang memang telah dipilih oleh Allah di antara ummat manusia.
Namun, tampaknya karena sikap pengagungan yang berlebihan dari ummat
Kristen terhadap Yesus atau Isa AS itulah yang menyebabkan mereka
mengartikan istilah ‘Bapa’ dan ‘anak’ melebihi maksud yang semestinya,
di mana istilah ‘anak’ justru diartikan sebagai ‘sembahan’ di samping
‘Bapa’ yang harus mereka sembah itu sendiri. Namun bagaimanapun juga, di
dalam al-Qur’an telah dinyatakan bahwa Allah SWT sendiri tidak pernah
mengambil seorang anak, sehingga ayat-ayat yang menyebutkan tentang
‘anak-anak sulung’ tersebut bisa jadi telah dipengaruhi oleh campur
tangan manusia. Dan kalaupun memang ayat-ayat tersebut benar-benar masih
suci dan belum tersentuh oleh campur tangan manusia, maka mungkin
penyimpangan dalam agama Kristen yang dibenci oleh Allah SWT adalah
penyimpangan dalam mengartikan istilah ‘anak’ tersebut, sebagaimana yang
telah diuraikan. Dan hanya Allah SWT sajalah yang lebih tahu
hakikatnya.
Dan di dalam al-Qur’an sendiri juga telah disebutkan peringatan yang
keras agar pengikut Yesus atau Isa AS tidak berlebihan dalam menghormati
dirinya, dan juga ibunya, karena penghormatan yang berlebihan akan bisa
berubah menjadi pengagungan yang akhirnya dapat menjadi penuhanan atau
penyembahan. Allah SWT berfirman yang artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa (Yesus) Putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”’ Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya).
Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya.
Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa
yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui
perkara-perkara yang gaib.’” (Al-Maaidah: 116)
Oleh karena itu, kiranya dengan segenap alasan dan kenyataan tersebut
ummat Kristen dapat mempertimbangkan tawaran kebenaran dari agama Islam
ini, yang juga sama-sama bersumber dari Allah, hanya saja Allah yang
diyakini oleh ummat Islam adalah Dzat yang Suci dari penyekutuan, di
samping juga firman-Nya dalam agama langit yang satu ini telah dijamin
bersih dari penambahan dan pengurangan akibat campur tangan manusia.
Allah yang telah menciptakan dan mengutus Yesus AS berfirman di dalam
al-Qur’an yang artinya:
“Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu
kalimat (ketetapan) yang tiada perselisihan antara kami dan kalian,
bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.’
Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah,
bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’.” (Aali ‘Imraan: 64)
“Dan (ingatlah) ketika Isa (Yesus) Putra Maryam berkata: ‘Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).’
Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti
yang nyata, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata’.” (Ash-Shaff: 6)
“Sesungguhnya al-Masih, Isa (Yesus) putra Maryam itu adalah utusan Allah
dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada
Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kalian kepada
Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kalian mengatakan: ‘(Tuhan itu) tiga’; berhentilah (dari ucapan itu, maka Itu) lebih baik bagi kalian. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (An-Nisaa’: 171)
“dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya Kami telah membunuh al-Masih, Isa (Yesus) putra Maryam, Rasul Allah’, padahal
mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang
mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa (Yesus) bagi
mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang
(pembunuhan) Isa (Yesus) benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa (Yesus); Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa (Yesus) kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisaa’: 157-158)
Demikianlah seruan Islam kepada ummat Kristen agar menerima Islam
sebagai agama penyempurna bagi agama mereka. Namun demikian, Islam
adalah agama perdamaian, di mana tiada pemaksaan dan kekerasan untuk
mengimani kebenaran agama ini, karena keselamatan iman dan tauhid telah
begitu jelas dan kerugian kufur dan syirik juga sudah begitu nyata. Dan
segala bentuk kekerasan yang nyatanya pernah terjadi atas nama Islam
sebenarnya hanyalah disebabkan oleh kesalahan ummat Islam, dan bukan
disebabkan oleh ajaran Islam itu sendiri. Islam adalah agama Allah SWT
di akhir zaman yang telah disempurnakan dan tiada kesalahan di dalamnya;
dia diturunkan untuk mengakhiri segala penyimpangan dalam agama-agama
langit yang telah diturunkan sebelumnya, serta untuk mengeluarkan
manusia dari kegelapan agama-agama yang telah mereka ciptakan sendiri.
Maka semoga Allah SWT semakin menguatkan iman ummat Islam dengan
menyadari kebenaran Islam di atas agama-agama lainnya. Dan semoga ummat
agama-agama lain, terutama ummat agama Kristen, dapat lebih dekat
mengenal Islam yang sebenarnya merupakan kabar gembira bagi mereka, yang
akan menjadi sebab keselamatan bagi mereka di dunia ini dan akhirat
kelak. Bagaimanapun juga, hakikat hidayah iman dan Islam hanyalah
menjadi wewenang dan wilayah Allah SWT semata. Ummat Islam hanya
diharuskan untuk menyampaikan ajaran Islam kepada pemeluk agama lainnya
sesuai kesanggupan masing-masing.
Sesungguhnya, setiap manusia akan pasti memiliki caranya
masing-masing dalam menjalani hidup. Dan di dalam Islam, tiada pemaksaan
dalam memilih jalan hidup selama itu bukan jalan yang melanggar aturan
Allah SWT dan Rasul-Nya, karena sesungguhnya Allah SWT tidak pernah
menilai hamba-Nya melalui status sosial mereka, materi mereka, ataupun
yang lainnya. Sebagai petani atau sebagai Menteri Pertanian sekalipun
akan bisa sama saja di mata Allah SWT, selama kedua profesi tersebut
sama-sama dilaksanakan dengan baik demi meraih ridha-Nya. Justru akan
bisa jadi profesi Menteri Pertanian akan lebih merugikan daripada
profesi petani di hadapan Allah SWT jika tidak dilaksanakan dengan baik.
Maka alangkah baiknya jika kita bekerja dan berbahagia dengan cara kita
masing-masing dengan tetap berusaha mentaati aturan Allah SWT dan
Rasul-Nya semampu kita, tanpa perlu merasa bahwa profesi kita adalah
profesi yang paling penting di antara profesi-profesi lainnya, hingga
kita pun tampak ingin memaksa orang lain untuk menjadi seperti diri
kita. Karena bagaimanapun juga, satu tubuh manusia itu terdiri dari
bagian-bagian yang masing-masing akan pasti memiliki kelemahan dan
kekurangan, yang mana karena itulah saling melengkapi satu sama lain di
antara mereka akan sangat diperlukan. Maka cukuplah kita saling
mendukung untuk menjadi diri masing-masing yang lebih baik, selama yang
menjadi kecenderungan kita bukanlah kecenderungan yang diharamkan oleh
agama Islam, niscaya dengan demikian kita pun akan bisa hidup bahagia
dan bersyukur bersama-sama tanpa ada permusuhan. Demikianlah, dan hanya
dari dan milik Allah SWT sajalah segala kebenaran, kekuatan, hidayah dan
taufiq.
